Site icon Checkbind

Kelangkaan Semen Melanda Aceh, Harga Meroket hingga Rp120 Ribu per Sa

LHOKSUKON, Checkbind.com – Selama sepekan terakhir, seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Aceh dilanda kelangkaan semen yang meresahkan. Jika pun masyarakat berhasil menemukan stok, mereka harus merogoh kocek hingga Rp120.000 per sak. Angka ini melonjak hampir dua kali lipat dari harga biasanya!

Musrizal, seorang pedagang material yang beraktivitas di Keude Bayu, Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara, menyampaikan keluh kesahnya kepada kami pada Rabu (29/7/2026). Menurutnya, sejak sepekan terakhir, semua distributor di wilayahnya mengalami kekosongan stok. Setiap kali dia berusaha memesan barang, pihak distributor hanya merespons dengan jawaban singkat, “siap”. Namun, hingga saat ini, tidak ada satu pun truk pengiriman yang tiba di tokonya. Akibatnya, semua merek semen yang biasanya bersaing di harga normal kini dibanderol sama rata, yaitu Rp120.000 per sak. Musrizal hanya berhasil mendapatkan pasokan 300 sak minggu ini, padahal dalam kondisi normal, dia mampu menjual hingga 2.250 sak per minggu. Jelas ini sebuah pukulan telak bagi kelangsungan usahanya.

Musrizal menambahkan, lonjakan harga ini sangat terasa menyakitkan. Biasanya, masyarakat Aceh bisa membeli semen Andalas dengan harga sekitar Rp60.000 per sak, sementara merek-merek lain di pasaran dijual dengan harga Rp50.000 hingga Rp55.000 per sak. Kini, semua merek menyamakan posisi di angka selangit. Yang lebih membuatnya bingung, Musrizal mengaku tidak mengetahui secara pasti apa penyebab utama hilangnya pasokan semen ini. “Bahkan untuk memenuhi pembelian rutin dari pelanggan saja, stok di gudang saya sudah habis,” ujarnya dengan nada frustrasi. Menariknya, Musrizal menegaskan bahwa permintaan semen dari masyarakat tidak sedang mengalami lonjakan drastis, jadi kelangkaan ini murni disebabkan oleh terhambatnya pasokan dari hulu.

Momentum Rebutan Semen di Lhokseumawe

Cerita serupa juga datang dari Kota Lhokseumawe. Said Mufizal, yang juga berprofesi sebagai pedagang semen, mengaku kewalahan melayani pembeli karena pasokan yang didapatkannya sangat minim. Dia bahkan harus ikut serta dalam perburuan stok semen dari distributor, sebuah situasi yang sangat langka terjadi di kota itu. “Kami semua jadi rebutan semen demi memenuhi kebutuhan pelanggan,” keluhnya. Minggu ini, Said hanya berhasil mengamankan 200 sak semen, sementara pada pekan-pekan biasanya, dia mampu menjual hingga 3.000 sak. Sungguh perbedaan yang sangat kontras dan mengkhawatirkan. Dengan nada berharap, Said Mufizal meminta pemerintah daerah untuk segera turun tangan. Dia berharap ada langkah cepat untuk memulihkan keadaan agar masyarakat yang sangat membutuhkan semen bisa kembali membelinya dengan harga wajar dan stok yang melimpah.

Warga Terpaksa Stop Pembangunan

Krisis ini paling terasa bagi warga biasa seperti Bachtiar, yang kini terpaksa mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pembangunan rumah impiannya. Dia menceritakan pengalamannya berkeliling ke berbagai toko bangunan di wilayahnya hanya untuk sekadar mencari satu sak semen, tetapi hasilnya nihil. “Hampir semua toko bangunan yang saya datangi sudah kehabisan stok semen, tanpa terkecuali dari berbagai merek,” ceritanya dengan nada kecewa. Jalan keluarnya tidak ada, sehingga Bachtiar dan banyak tetangganya akhirnya mengambil keputusan berat untuk menghentikan sementara pekerjaan konstruksi rumah mereka. “Daripada terus mencari dengan susah payah dan harga yang mahal, lebih baik kami stop dulu pembangunannya,” tutupnya, mewakili perasaan banyak warga yang kini mengalami nasib serupa. Mereka hanya bisa berharap agar kelangkaan ini segera berakhir sebelum impian memiliki rumah menjadi semakin jauh.

Kondisi ini tentu menjadi alarm keras bagi semua pihak. Banyak masyarakat yang mulai mempertanyakan kebijakan distribusi semen di Aceh. Mengapa pasokan bisa sekritis ini? Benarkah ini akibat masalah produksi atau ada permainan pasar yang tidak sehat? Sudah saatnya pemerintah provinsi dan pusat duduk bersama, menelusuri rantai pasok, dan memastikan tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi demi keuntungan sesaat. Jika tidak, bukan hanya pembangunan yang terhambat, tetapi perekonomian masyarakat kecil ikut terancam. Kami berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk menyelamatkan warga Aceh dari tekanan ekonomi akibat langkanya bahan pokok pembangunan ini.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version