JAKARTA, checkbind.com – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Coiri Fauzi, menekankan pentingnya menambah jumlah petugas haji jemaah perempuan, khususnya pembimbing ibadah. Langkah ini dinilai krusial agar jemaah, terutama perempuan, merasa lebih nyaman saat menerima bimbingan selama menjalankan ibadah haji.
“Kami mendorong setiap provinsi menyediakan petugas pembimbing haji perempuan,” tegas Arifatul saat berkunjung ke jemaah haji Sektor 2 di Kawasan Syisyah, Makkah, Minggu (1/6/2025). “Petugas haji dari daerah asal jemaah bisa memberikan pendekatan terbaik – baik secara bahasa, budaya, maupun emosional – karena mereka memahami betul karakteristik jemaah setempat,” jelas Menteri Arifatul dengan penuh keyakinan.
Dominasi Jemaah Perempuan Butuh Pendekatan Khusus
Arifatul menjelaskan, mayoritas jemaah haji Indonesia adalah perempuan. Oleh karena itu, pemerintah harus segera menambah jumlah petugas haji perempuan, terutama pembimbing ibadah. “Sesama perempuan pasti lebih mudah berkomunikasi, terlebih untuk membahas hal-hal sensitif yang hanya pantas mereka bahas bersama,” tegas Arifatul.
Ia mencontohkan, masalah kesehatan reproduksi seperti menstruasi atau kondisi istihadhah memerlukan konsultasi khusus. “Ini bukan sekadar urusan ibadah, tapi juga kenyamanan dan kesehatan jemaah,” jelasnya.
Modul Khusus untuk Jemaah Perempuan
Tak hanya mendorong penambahan petugas, KemenPPPA juga berencana menyiapkan modul bimbingan khusus untuk jemaah haji perempuan. “Saya sudah berkoordinasi dengan Menteri Agama. Modul ini penting karena selama ini belum ada panduan khusus untuk perempuan,” ungkap Arifatul.
Modul tersebut akan mencakup panduan ibadah, kesehatan, serta tips menghadapi situasi khusus selama haji. “Dengan modul ini, kami harap jemaah perempuan bisa lebih siap secara fisik dan mental,” katanya.
Catatan untuk Pelaksanaan Haji ke Depan
Arifatul menegaskan, rekomendasi ini harus menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan haji tahun-tahun mendatang. “Ini bukan sekadar usulan, tapi kebutuhan nyata yang harus dipenuhi,” tegasnya.
Ia juga meminta Kementerian Agama mempertimbangkan aspek ramah perempuan dalam setiap kebijakan haji. “Kami harus menyesuaikan semua aspek – mulai dari pembimbing, fasilitas kesehatan, sampai pendampingan spiritual – dengan kebutuhan khusus perempuan,” tegas Menteri Arifatul.
Baca Juga: Porsche Hantam Toyota Rush, Satu Keluarga Terluka Parah
Rencana ini mendapat respons positif dari berbagai kalangan, termasuk haji perempuan. “Kami sangat terbantu jika ada petugas perempuan yang memahami kondisi kami,” kata Siti, salah satu jemaah asal Jawa Barat.
Di sisi lain, Kementerian Agama menyambut baik kolaborasi ini. “Kami akan koordinasikan lebih lanjut untuk memastikan rekomendasi ini bisa diwujudkan,” kata seorang pejabat Kemenag.
Haji Ramah Perempuan Jadi Prioritas
Arifatul menekankan, konsep “haji ramah perempuan” harus menjadi prioritas. “Ini tentang memastikan hak dan kenyamanan perempuan terpenuhi tanpa terkecuali,” tandasnya.
Dengan langkah-langkah konkret ini, diharapkan pengalaman ibadah haji bagi perempuan Indonesia akan semakin baik di masa depan. “Kami tidak ingin ada lagi perempuan yang merasa kesulitan hanya karena kurangnya pendampingan yang sesuai,” pungkasnya.
#HajiRamahPerempuan #KemenPPPA #PetugasHajiPerempuan

