Site icon Checkbind

Jalur Pendakian Gunung Slamet Resmi Dibuka, Pengelola Batasi Akses Hingga Pelawangan

PURBALINGGA, Checkbind.com – Para pendaki, siapkan sepatu dan jaket tebalmu! pemerintah secara resmi membuka kembali jalur pendakian Gunung Slamet via Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, Purbalingga, Jawa Tengah, terhitung mulai Rabu (10/6/2026). Namun, jangan langsung panjat gunung sambil bernyanyi gembira, karena keselamatan tetap menjadi komando utama!

Selain jalur Bambangan, pihak berwenang juga mengoperasikan enam jalur pendakian lainnya secara serentak. Masyarakat bisa kembali menapakkan kaki di jalur via Guci, Baturraden, Gunung Malang, Kaliwadas, Dipajaya, dan Cemara Sakti.

Baca juga:
[UPDATE TERKINI: Kondisi Terkini Gunung Slamet Pasca Pembukaan Terbatas]

Hati-Hati! Perhutani Memangkas Radius Aman, Puncak Masih Terlarang Keras!

Supervisor Site Gunung Slamet Perhutani Alam Wisata Wilayah Barat, Sugeng Utomo, menyampaikan sebuah pengumuman krusial dengan tegas. Meskipun pintu pendakian telah dibuka, para pendaki harus mematuhi aturan batasan yang ketat. Pihak pengelola hanya mengizinkan aktivitas hingga radius dua kilometer dari puncak kawah.

“Kalau di jalur Bambangan, radius dua kilometer itu berada tepat di Pos 9. Karena itu, kami hanya mengizinkan pendakian maksimal sampai di pelawangan atau batas vegetasi. Di situlah titik paling jauh yang bisa kalian capai,” jelas Sugeng dengan nada serius pada Senin (8/6/2026).

Pemerintah Memulai Pembukaan Pendakian Gunung Slamet
Namun, perlu kalian ingat, bahwa pihak berwenang justru mempersempit radius aman ini dari aturan sebelumnya.

Pengelola Wajib Menyiapkan Tiga Hal Penting Sebelum Pendaki Datang

Dalam beberapa hari terakhir, Perhutani secara proaktif memberikan waktu lapang kepada setiap pengelola jalur pendakian Gunung Slamet. Kebijakan ini bertujuan untuk mematangkan sejumlah persiapan teknis di lapangan sebelum para pendaki berdatangan.

Sugeng kemudian merinci tiga persiapan lapangan yang harus segera dituntaskan oleh para pengelola. Pertama, mereka wajib memasang rambu-rambu batas aman yang jelas dan tidak membingungkan. Kedua, para pengelola juga harus menyediakan penanda jalur evakuasi yang mudah dikenali dalam kondisi apapun. Ketiga, mereka wajib memasang papan informasi yang informatif dan transparan mengenai pemberlakuan pendakian terbatas ini.

Sementara dari sisi administrasi, basecamp juga harus berbenah. Setiap pengelola basecamp kini wajib menyediakan form surat pernyataan bermaterai bagi calon pendaki. Selain itu, demi keselamatan bersama, pengelola basecamp juga berkewajiban menerapkan safety briefing secara rutin kepada tiap pendaki sebelum mereka memulai pendakian.

“Jangan anggap remeh aturan ini. Jika ke depan kami memandang telah terjadi keadaan darurat yang berpotensi membahayakan masyarakat umum, maka kami akan menutup kembali kegiatan pendakian Gunung Slamet sewaktu-waktu tanpa kompromi,” tegas Sugeng memberikan peringatan keras.

Badan Geologi Memperkecil Radius Rekomendasi Setelah Kajian Mendalam

Sebelum keputusan pembukaan ini diumumkan, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) melakukan kajian mendalam. Hasil kajian tersebut mendorong mereka untuk secara resmi mempersempit radius aman Gunung Slamet dari sebelumnya tiga kilometer menjadi hanya dua kilometer dari kawah aktif.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi KESDM, Lana Saria, mengeluarkan rekomendasi tersebut secara resmi dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (3/6/2026). Keputusan ini tentu bukan tanpa alasan kuat.

Kabar Melegakan: Petugas Tidak Mendeteksi Peningkatan Aktivitas Termal

Berdasarkan hasil analisis teliti selama periode Sabtu (4/4/2026) hingga Rabu (3/6/2026), petugas di lapangan melaporkan sebuah temuan penting. Mereka tidak mengamati adanya peningkatan aktivitas termal yang lebih lanjut pada tubuh gunung.

Petugas melakukan pengukuran suhu secara modern menggunakan drone termal canggih. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa suhu solfatara kawah berfluktuasi antara 407,2 derajat celcius hingga 478,7 derajat celcius. Yang lebih melegakan, data tersebut tidak menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

“Hasil pengukuran tersebut secara ilmiah mengindikasikan bahwa aktivitas termal gunung ini memang masih relatif tinggi. Namun, kondisinya cenderung stabil dan yang terpenting, tidak menunjukkan eskalasi dibandingkan dengan kondisi yang dulu menjadi dasar peningkatan jarak rekomendasi,” jelas Lana dalam keterangan tertulisnya yang dirilis kepada media.

Meskipun kabar ini cukup menenangkan, masyarakat tidak boleh lengah. Sejumlah parameter pemantauan vulkanik lainnya secara umum memang menunjukkan kecenderungan menurun. Akan tetapi, tingkat aktivitas vulkanis Gunung Slamet belum sepenuhnya pulih kembali ke kondisi dasar yang benar-benar aman.

“Berdasarkan evaluasi menyeluruh tersebut, maka dengan ini kami mengembalikan radius zona rekomendasi Gunungapi Slamet menjadi dua kilometer dari pusat kawah,” ujar Lana menegaskan.

Jadi, bagi Anda yang mendambakan sensasi dinginnya angin pegunungan via jalur favorit, segeralah siapkan fisik dan mental. Tapi ingat, batas aman hanya sampai Pelawangan. Puncak mungkin boleh kalian rindukan, namun nyawa adalah segalanya. Selamat mendaki dengan penuh tanggung jawab

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version