Site icon Checkbind

Indonesia Perkuat Tata Kelola Ekspor Monyet Ekor Panjang, Instalasi Budidaya di Mesuji

MESUJI, Checkbind.com – Indonesia kini serius menggarap ekspor satwa liar berstandar kelas dunia, khususnya untuk komoditas makaka atau monyet ekor panjang asal Lampung. Badan Karantina Indonesia (Barantin) mengambil langkah berani dengan mengatur ketat tata kelola ekspor satwa ini agar tidak asal jual, melainkan memenuhi syarat ilmiah yang ketat.

Pasalnya, para eksportir tidak menjual monyet-monyet ini untuk konsumsi atau hewan peliharaan, melainkan mengkhususkannya untuk mendukung riset ilmiah di luar negeri. Karena itu, setiap pelaku usaha wajib mengikuti prosedur yang sangat ketat.

Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan main-main dalam mengawasi proses ekspor ini. Menurutnya, seluruh kegiatan pengiriman makaka harus terkontrol penuh dan sama sekali tidak boleh melibatkan hasil tangkapan liar dari hutan.

“Jadi hari ini kita meresmikan instalasi pengembangan makaka atau monyet ekor panjang. Sekarang ini, yang boleh mengekspor makaka baru tujuan Amerika, dan tujuan ekspor ini hanya untuk penelitian. Ingat, tidak boleh menangkapnya dari hutan, tapi wajib membudidayakannya dengan standar tertentu,” tegas Abdul Kadir Karding di Bandarlampung, Jumat (31/7/2026).

Lantas, seperti apa sih ketentuan khusus yang mengatur ekspor monyet ekor panjang dari Lampung ini? Ternyata, tidak sembarang orang atau perusahaan bisa melakukan kegiatan ini. Pemerintah hanya mengizinkan pihak-pihak tertentu yang memiliki izin resmi dan telah memenuhi standar budidaya ketat untuk melakukan ekspor.

Sejumlah syarat wajib yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha antara lain:

Lebih lanjut, Abdul Kadir menjelaskan bahwa pihaknya sengaja memilih lokasi spesifik yang memiliki potensi, salah satunya Kabupaten Mesuji di Lampung, untuk pembangunan instalasi budidaya monyet. Budidaya ini tidak tersebar merata di seluruh Nusantara.

“Pembangunan instalasi budidaya ini ada di Kabupaten Mesuji, karena potensinya memang ada di sana. Budidaya ini tidak ada di semua tempat, hanya ada di Lampung, Sulawesi, dan Kepulauan Seribu. Dan perlu diingat lagi, ekspor makaka ini hanya untuk penelitian, tidak boleh sama sekali untuk konsumsi,” tambahnya.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa monyet ekor panjang ini begitu istimewa sehingga negara-negara maju menjadikannya objek penelitian? Jawabannya terletak pada struktur biologisnya yang ternyata memiliki kemiripan dengan manusia.

Karena karakteristik inilah, makaka menjadi primadona untuk berbagai riset ilmiah, terutama di bidang kesehatan dan biomedis yang membutuhkan uji coba pra-klinis.

“Organnya memiliki kemiripan dengan babi dan manusia, sehingga para peneliti bisa memanfaatkannya untuk penelitian. Namun, pasar Amerika saat ini masih menyerap jumlah kecil. China justru membutuhkan dalam jumlah besar, dan sekarang kita masih menegosiasikan persyaratan yang harus kita penuhi,” ungkapnya.

Dari sisi pasar, permintaan internasional terhadap monyet ekor panjang ini ternyata sangat menggiurkan. Meski pemerintah baru memfokuskan ekspor ke Amerika Serikat untuk saat ini, negara-negara lain pun membutuhkan angka yang tidak kalah besar.

“Ini hanya boleh untuk penelitian dan sudah ada kerja sama antarnegara untuk riset ini,” imbuhnya menegaskan potensi ekonomi yang terkandung di dalamnya.

Tentu saja, proses pengiriman monyet-monyet ini tidak bisa dilakukan dengan seenaknya. Pemerintah melibatkan banyak lembaga pengawas dan tidak akan mengeluarkan izin tanpa adanya rekomendasi resmi dari pihak berwenang.

Mereka melakukan hal ini semata-mata untuk menjaga keseimbangan ekosistem di alam liar, serta memastikan aspek etika dan kesejahteraan hewan tetap terpenuhi selama proses budidaya hingga pengiriman.

“Kami tidak mengeluarkan izin ini sembarangan. BRIN harus memberikan rekomendasi terkait berapa ekor yang boleh dikeluarkan dan dikirim. Kemudian Kementerian Kehutanan juga memberikan rekomendasi untuk menentukan jenis apa saja yang boleh dikembangbiakkan. Memang prosedurnya agak rumit, tapi ini menjadi jalan keluar untuk mengurangi potensi hama dan tentu ada dampak ekonominya juga,” terang Abdul Kadir.

Lalu, apa sebenarnya dampak positif dari budidaya makaka ini bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat setempat? Direktur Biomedikal Nusantara, Reki Chandra, mengungkapkan bahwa saat ini ekspor makaka dari Lampung mencapai sekitar 1.000 ekor per tahun.

Menariknya, para pelaku budidaya mengambil generasi pertama atau F1 dari makaka ini dari hasil interaksi negatif antara manusia dan satwa, bukan dari kawasan hutan lindung. Konflik antara manusia dan makaka sering terjadi karena populasi monyet yang sangat tinggi dan kebutuhan pakannya yang besar. Alih-alih membasmi monyet-monyet tersebut, kehadiran perusahaan budidaya justru menjadi solusi penyelamatan.

“Kebanyakan monyet-monyet ini dulunya sering menyerang masyarakat. Karena jumlahnya sangat banyak dan kebutuhan makanan tinggi, warga sering menyiksa atau meracuni mereka. Dengan adanya perusahaan ini, kami menyelamatkan monyet-monyet tersebut agar tidak terjadi konflik antara manusia dan hewan,” jelas Reki.

Instalasi pengembangbiakan di Kabupaten Mesuji ini memiliki luas lahan sekitar 4,9 hektare dengan kapasitas tampung hingga 4.000 ekor. Saat ini, populasi makaka yang sudah dibudidayakan mencapai 804 ekor.

Selain terbukti membantu meredam konflik satwa, kegiatan budidaya ini juga memberikan nilai tambah ekonomi yang sangat tinggi bagi daerah. Harga jual makaka untuk penelitian internasional bervariasi, tergantung pada usia dan kriteria kesehatan hewan.

“Peluang ekonomi dari pengembangan makaka ini sangat tinggi, karena permintaan dari luar negeri terus meningkat. Lembaga riset yang membeli, dan harga jualnya cukup tinggi, tergantung kriteria dan usia monyet. Harganya berkisar antara 3.000 hingga 4.000 dolar AS per ekor,” tutup Reki.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version