JAKARTA Checkbind.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman nekat melaporkan sekitar 300 perusahaan kelapa sawit nakal ke Polri. Kenapa? Mereka berani-beraninya menurunkan harga tandan buah segar (TBS) seenak jidat. Padahal, petani sudah keringat banjir!
Berdasarkan informasi yang dihimpun, aksi penurunan harga ini makin menjadi-jadi setelah pemerintah mengumumkan pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai eksportir tunggal produk sawit. Ironis sekali, bukan?
Nah, lebih mencengangkannya lagi, Amran dengan tegas menyatakan bahwa data 270 hingga 300 perusahaan sawit tersebut bakal langsung dikirim ke Polda. Bahkan, tembusannya langsung mengalir ke puncak pimpinan Polri, yaitu Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Berani amat ya mereka?
“Kurang lebih 270 sampai 300 perusahaan masih ogah menaikkan harga,” tegas Amran saat ditemui di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Senin (8/6/2026). “Kami segera mengirim data ini langsung ke Polda. Tembusan pun kami sampaikan ke Pak Kapolri, Pak Kapolda, dan Dirkrimsus untuk segera ditindaklanjuti,” sambungnya dengan nada geram.
Gara-gara Amran Haji, Harga Sawit Ambyar? Begini Faktanya!
Coba bayangkan, saat Amran sedang menunaikan ibadah haji, harga TBS di pasaran langsung anjlok parah. Seolah ada yang sengaja memanfaatkan ketidakhadirannya. Namun, jangan salah! Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, atau yang akrab disapa Mas Dar, tidak tinggal diam. Ia langsung mengguyur dua kali rapat darurat untuk mengendalikan harga TBS.
Rapat-rapat panas itu pun akhirnya dihadiri oleh asosiasi petani, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), hingga perusahaan refinery atau pengolahan sawit. Semua pihak duduk satu meja. Hasilnya? Sebagian harga mulai membaik perlahan. Tetapi, bagi Amran, itu belum cukup.
Meskipun ada perbaikan, faktanya masih banyak pabrik kelapa sawit yang nekad membeli TBS di bawah harga acuan yang sudah ditentukan pemerintah. Sungguh menyakitkan hati para petani!
Langsung Gercep! Usai Cuti, Amran Langsung Geber Rapat Maut
Begitu kembali aktif bekerja seusai cuti haji, Amran tidak buang waktu. Ia langsung menggeber rapat koordinasi akbar untuk pengendalian harga TBS. Rapat tersebut terbilang istimewa karena menghadirkan puluhan perwakilan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) dari sejumlah Polda di Indonesia. Aduh, seram!
Dengan penuh syukur, Amran pun mengumumkan kabar baik. “Alhamdulillah, hari ini semua pihak sepakat. Tidak boleh ada lagi harga yang turun! Harus naik seperti kondisi semula,” ujarnya optimistis.
Menurut pernyataan tegas Amran, perusahaan pengolahan kelapa sawit sama sekali tidak punya alasan untuk menekan harga TBS petani. Logikanya sederhana. Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) saat ini terus merangkak naik di pasar global. Apalagi, nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah juga ikut menguat hingga 10 persen. Seharusnya, petani untung besar!
Anomali Harga Bikin Gerah: Dibilang Kartel, Siapa Dalangnya?
Dengan data di atas, Amran menilai penurunan harga TBS dan CPO di pasar domestik sebagai sebuah anomali yang mengganggu. Aneh sekali, kan?
“Harusnya harga naik 10 persen, kok malah turun?” keluhnya. “Tapi alhamdulillah, berdasarkan laporan terakhir, sudah 70 persen yang berangsur-angsur pulih,” tambahnya lega.
Namun, Amran tidak mau berhenti sampai di situ. Ia memasang target ambisius. “Mulai hari ini, harga harus kembali 100 persen. Bahkan, bila perlu tambah 10 persen dari harga sebelumnya, karena nilai dollar sedang bagus,” perintahnya dengan penuh semangat juang.
Satgas Pangan Ikut Gerilya: Ada Permufakatan Jahat?
Di kesempatan yang sama, Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Pangan, Brigjen Ade Safri Simanjuntak, ikut buka suara. Pihaknya mendukung penuh langkah Kementan dalam mencegah kebocoran penerimaan negara.
Bahkan, Satgas Pangan mencium bau tidak sedap. “Kami menduga kuat adanya indikasi permufakatan jahat,” ujar Ade dengan hati-hati namun tajam. “Atau mungkin persekongkolan diam-diam. Mereka menyepakati harga TBS turun, padahal harga CPO dunia tidak turun dan cenderung naik. Ini jelas persekongkolan jahat,” tegasnya.
Dengan laporan yang sudah masuk dan tembusan langsung ke Kapolri, publik kini menanti gebrakan hukum selanjutnya. Siapa pun dalang di balik anomali harga ini, bersiaplah!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

