Site icon Checkbind

Harga Cabai Rawit di Ambon Melonjak Tajam, Tembus Rp 120.000 per Kilogram

Ambon, Checkbind.com – Warga Kota Ambon, Maluku, kini menggeleng-gelengkan kepala seraya menahan nafas setiap melangkah masuk ke pasar. Dalam sepekan terakhir, harga cabai rawit merah melonjak drastis hingga menyentuh angka yang benar-benar di luar nalar. Bayangkan, komoditas pedas yang menjadi nyawa setiap masakan khas Maluku ini kini menembus harga Rp 120.000 per kilogram di Pasar Mardika. Lonjakan ini tentu saja langsung membuat dapur para ibu rumah tangga dan kantong para pengusaha kuliner ikut “berkeringat” dingin.

Pedagang di Pasar Mardika pun terpaksa menerapkan sistem penjualan eceran dengan skala yang sangat mini. Mereka membanderol satu cupa atau kaleng susu kental manis seharga Rp 15.000. Jika pembeli hanya membutuhkan sedikit untuk memasak hari ini, mereka masih bisa membeli satu piring kecil dengan harga Rp 10.000. Sungguh, nilai segitu biasanya untuk membeli satu ikat penuh, tapi sekarang hanya cukup untuk satu kali ulekan sambal!

Mato Asrun, seorang pedagang cabai yang sudah puluhan tahun berjualan di gedung Pasar Mardika, mengungkapkan bahwa lonjakan ini bukan sekadar gejolak satu-dua hari. Menurut pengakuannya, kenaikan harga sudah berlangsung nyaris satu minggu penuh, dan semua jenis cabai mengalami nasib yang sama pahitnya. “Sudah mau seminggu harganya naik. Semua cabai sama. Ini cabai lokal dari Maluku,” tegas Mato dengan nada pasrah namun jujur menggambarkan realita di lapangan.

Jika menelusuri rantai pasoknya, sebagian besar cabai rawit merah yang membanjiri lapak-lapak Pasar Mardika berasal dari Pulau Buru. Lantas, apa biang kerok di balik kenaikan gila-gilaan ini? Mato menjelaskan bahwa musim kemarau panjang yang sedang melanda wilayah Maluku menjadi penyebab utamanya. Cuaca panas yang menyengat tanpa hujan ini memukul produktivitas lahan pertanian secara brutal. Tanaman cabai, yang notabene haus akan air, kini hanya bisa bertahan dan tumbuh subur di lahan-lahan yang berdekatan dengan aliran sungai atau mata air alami.

Kondisi kemarau ini membuat sebagian besar petani gagal panen. Tanpa hujan turun membasahi tanah, banyak tanaman cabai mengering, layu, dan mati sebelum sempat berbuah lebat. “Chili ini kan butuh air. Cuma sedang ada kemarau. Jadi paling yang subur ini di lahan tani dekat sungai atau sumber air. Tidak ada hujan, banyak kering tanaman bisa mati. Makanya dia harga mahal,” tutur Mato menerangkan situasi pelik yang dihadapi para petani dan pedagang saat ini.

Meskipun harga terbang setinggi langit, fenomena menarik justru terjadi di tengah masyarakat Ambon. Para pembeli tetap membanjiri pasar dan tetap membeli cabai, meskipun dengan jumlah yang jauh lebih terbatas dari biasanya. Mereka kini lebih pintar mengatur strategi, memilih membeli dalam porsi kecil untuk kebutuhan harian dibandingkan menimbun stok seperti saat harga normal. Warga tidak mau kehilangan cita rasa masakan mereka hanya karena harga sedang naik.

Selain cabai rawit, cabai merah besar juga ikut meroket ke angka yang sama, yaitu Rp 120.000 per kilogram. Pemasok mengirimkan komoditas ini dari Namlea, Pulau Buru, ke pasar-pasar di Ambon. Para pedagang mengaku stok barang dari petani semakin menipis, sehingga mereka hanya bisa mengikuti arus harga yang ditentukan oleh ketersediaan barang di tingkat produsen. Permintaan tetap tinggi, sementara pasokan terus menyusut, kombinasi sempurna yang memicu lonjakan harga.

Masyarakat Ambon memang dikenal tidak bisa lepas dari cabai dalam setiap hidangannya. Seorang ibu rumah tangga bernama Siti (45) mengaku berat harus merogoh kocek lebih dalam, namun ia tetap memilih membeli cabai. “Memang cukup menguras isi dompet, tapi ini sudah menjadi kebutuhan pokok kami. Masakan orang Ambon rasanya hambar kalau tidak ada cabai. Saya tetap beli, tetapi sekarang hanya satu cupa saja dan saya gunakan untuk beberapa hari ke depan,” cerita Siti sambil tersenyum getir.

Di sisi lain, pelaku UMKM kuliner di Ambon merasakan dampak paling berat dari situasi ini. Para pemilik warung makan dan produsen sambal rumahan tetap memborong cabai dalam jumlah banyak, karena mereka tidak bisa menghentikan produksi. Namun, mereka memilih menahan diri untuk tidak menaikkan harga jual makanan secara drastis, karena takut kehilangan pelanggan setia. “Orang Ambon tetap makan chili saja. Jadi meskipun mahal dorang (mereka) tetap beli satu cupa atau seperempat. Apalagi yang ada usaha pasti mau tidak mau harus beli,” tegas Mato menggambarkan dilema klasik antara biaya produksi dan loyalitas pelanggan.

Harga tinggi ini tidak hanya membidik cabai. Pantauan di sejumlah lapak menunjukkan bahwa komoditas sayuran lain juga ikut melonjak. Kacang panjang kini mencapai angka Rp 20.000 per ikat, sementara tomat bergerak di rentang Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per kilogram. Ini menandakan bahwa musim kemarau telah memukul hampir seluruh sektor pertanian holtikultura di Maluku secara serentak, memaksa ibu-ibu untuk lebih kreatif mengolah bahan makanan seadanya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, Ina Wati Thahir, membenarkan lonjakan harga cabai ini dan mengaitkannya langsung dengan kondisi cuaca ekstrem. Ia menjelaskan bahwa fenomena panas berkepanjangan sedang melanda hampir seluruh wilayah Indonesia, sehingga bukan hanya Maluku yang terkena imbasnya, meskipun wilayah kepulauan merasakan dampak yang lebih akut karena ketergantungan pasokan antar pulau.

Menurut Ina, kemarau panjang ini berdampak signifikan terhadap stok cabai dari daerah-daerah pemasok utama Kota Ambon. Wilayah seperti Pulau Buru, Kobisonta di Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), dan Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) semuanya mencatat penurunan hasil panen yang sangat drastis. Gangguan produksi di sentra-sentra inilah yang kemudian memicu lonjakan harga di tingkat konsumen.

Menyikapi keadaan genting ini, pemerintah melalui Dinas Pertanian tidak tinggal diam. Mereka segera mengupayakan tambahan pasokan cabai dari luar wilayah Maluku. Saat ini, tim dari dinas bergerak cepat menjalin koordinasi dengan daerah-daerah penghasil cabai di luar Maluku guna mendatangkan stok segar. Para pedagang dan pembeli berharap upaya ini segera membuahkan hasil, sehingga harga cabai bisa kembali normal dan mereka tidak perlu lagi merogoh kocek sangat dalam hanya untuk sekadar menikmati masakan pedas khas Ambon.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version