Site icon Checkbind

Dua Pendaki Ilegal Ditemukan di Ranu Kumbolo setelah Tiga Hari Terdampar di Gunung Semeru

MALANG, Checkbind.com – Nasib nahas menimpa dua anak muda asal Kepanjen, Malang, yang nekat menaklukkan Gunung Semeru. Bukan lewat jalur resmi, mereka malah memilih jalan “liar” yang mereka lihat di media sosial. Alhasil, bukan puncak yang mereka dapat, melainkan tiga hari tersesat dan kelaparan di tengah hutan belantara Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS)!

Dua pendaki yang kini viral itu adalah Yanuar (19) dan Dwi (25). Keduanya adalah warga Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Setelah menghilang selama tiga hari, tim petugas dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) akhirnya berhasil menemukan mereka di kawasan Danau Ranu Kumbolo, Kabupaten Lumajang, pada Kamis (27/8/2026) kemarin. Sungguh sebuah penyelamatan yang sangat dramatis!

Ketika tim penyelamat berhasil menjangkau lokasi, kondisi kedua pemuda ini sungguh memprihatinkan. Mereka tampak lemas dan kelelahan luar biasa. Yang lebih parah, semua bekal makanan dan minuman yang mereka bawa sudah habis dikonsumsi. Mereka benar-benar berada di ambang keputusasaan sebelum akhirnya ditemukan.

Kisah nekat ini bermula pada Senin (24/8/2026) malam. Yanuar mengakui bahwa ia bersama Dwi memutuskan untuk memulai pendakian melalui jalur ilegal di daerah Limpak, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Mereka tidak bergabung dengan rombongan resmi, melainkan hanya bermodalkan file GPX atau data GPS yang berisi rekaman jalur dan titik koordinat yang mereka dapatkan dari internet. Mereka bertindak sebagai “komandan” bagi diri mereka sendiri tanpa bantuan siapa pun.

“Kami mendaki Semeru lewat Limpak dengan mengandalkan peta digital,” ungkap Yanuar dengan suara sedikit bergetar saat ditemui di Mapolres Malang, Kamis (27/8/2026). “Sesampainya saya di Puncak Limpak sekitar jam 06.00 pagi, saya bertemu dengan warga lokal yang sedang mencari tanaman obat. Saat itu, warga tersebut memberi tahu saya bahwa dari tempat kami berdiri, ternyata masih bisa tembus menuju Kalimati,” tambahnya menjelaskan detik-detik awal petualangan mereka.

Menariknya, Yanuar mengungkapkan bahwa sebenarnya ia dan Dwi tidak berniat untuk bermalam di gunung. Dalam benak mereka, ini hanyalah perjalanan tektok alias tidak kota alias mendaki dalam satu hari langsung turun. Mereka merencanakan untuk mulai mendaki pada Selasa (25/8/2026) dini hari dan menargetkan sudah kembali ke rumah pada malam harinya. Singkatnya, mereka menganggap ini hanyalah jalan pagi yang biasa, tetapi di ketinggian!

Karena hanya berniat tektok, mereka pun membawa perbekalan yang sangat terbatas. Bayangkan, mereka sama sekali tidak membawa tenda untuk berlindung dari dinginnya angin malam, apalagi sleeping bag untuk menghangatkan tubuh. Mereka mengira semua akan berjalan mulus dan cepat. Namun, siapa sangka, alam memiliki rencana lain yang jauh lebih kejam dari perkiraan mereka.

Rencana “pergi pagi pulang sore” itu gagal total. Yanuar dan Dwi justru tersesat dan terdampar selama tiga hari dua malam yang panjang di sebuah punggungan bukit yang mengarah ke Kalimati. Di sanalah mereka bergulat dengan rasa takut, dingin yang menusuk tulang, dan kelaparan. Mereka hanya bisa pasrah menunggu keajaiban atau pertolongan yang tak kunjung datang.

“Dua orang ini berangkat hanya berdua dan tanpa pemandu,” tegas Yanuar. “Kami mengambil jalan ilegal, dan akibatnya kami terdampar di punggungan bukit selama tiga hari. Padahal, target saya hanya satu hari pulang, Selasa dini hari berangkat dan malamnya sudah di rumah. Namun kenyataannya, kami harus bertahan di tengah hutan,” tuturnya dengan nada menyesal yang terdengar jelas.

Lantas, apa yang membuat mereka berani mengambil risiko sebesar itu? Jawabannya hanya satu: Penasaran. Yanuar dengan blak-blakan mengaku bahwa ia nekat memilih jalur ilegal karena rasa ingin tahunya yang sangat tinggi terhadap jalur tersebut. Ia penasaran dengan sensasi berbeda yang tidak bisa ia dapatkan di jalur resmi.

“Kenapa nekat? Ya karena penasaran sama jalurnya, bang,” ujarnya polos. “Kalau jalur resmi saat ini kan sudah ditutup untuk pendakian ke puncak, pendaki hanya diperbolehkan sampai Danau Ranu Kumbolo saja. Jadi, saya pengen lihat sendiri bagaimana jalur yang satu ini,” jelasnya. Keinginan untuk mencari pengalaman instagramable ini nyaris merenggut nyawa mereka.

Ketahanan mereka akhirnya runtuh pada hari ketiga. Tanpa bekal dan tanpa kekuatan, kedua pendaki ilegal ini akhirnya memutuskan untuk menuruni gunung menuju Ranu Kumbolo. Mereka berharap di sana mereka bisa bertemu dengan petugas atau pendaki lain yang bersedia memberi mereka pertolongan. Mereka berjalan merangkak kelelahan menuju titik pertemuan yang paling ramai, berharap menjadi penyelamat bagi diri mereka sendiri.

Kapolsek Poncokusumo, AKP Teguh Iman Sugiarto, membenarkan kronologi kejadian tersebut. Menurutnya, kedua pendaki itu ditemukan oleh petugas gabungan di sekitar Ranu Kumbolo pada Kamis siang. Proses pencarian memang sudah dilakukan sejak orang tua mereka melaporkan hilangnya kedua anak tersebut.

“Tepat pada jam 11.00 siang tadi, kedua pendaki yang sempat dilaporkan hilang oleh orang tuanya akhirnya kami temukan di Ranu Kumbolo, Lumajang. Mereka dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan,” ujar Iman kepada awak media. Untungnya, tim evakuasi bergerak cepat untuk menolong mereka.

Dari hasil pemeriksaan lebih lanjut, polisi menemukan fakta yang mengejutkan. Kedua pemuda ini mengaku mendapatkan informasi mengenai jalur ilegal tersebut dari media sosial TikTok. Mereka melihat video-video petualang lain yang tampak keren dan tanpa hambatan, sehingga mereka pun termakan bujukan konten digital tersebut tanpa memikirkan risiko.

“Berdasarkan pengakuan mereka, kedua pendaki ini mengetahui adanya jalur alternatif ini dari aplikasi TikTok,” terang Kapolsek. Ini menjadi peringatan keras bagi para pengguna media sosial untuk tidak mudah percaya pada konten tanpa verifikasi keamanan yang jelas.

Setelah berhasil dievakuasi dan dibawa ke tempat aman, kedua pendaki tersebut segera mendapatkan perawatan intensif. Tim medis langsung memberikan asupan nutrisi dan cairan untuk memulihkan kondisi tubuh mereka yang drop. Setelah dinyatakan stabil, mereka kemudian diserahkan kepada orang tua masing-masing untuk menjalani pemulihan lebih lanjut.

“Saat kami temukan, perbekalan mereka benar-benar habis. Namun, Alhamdulillah, setelah kami berikan nutrisi dan vitamin, kondisi mereka berangsur pulih dan kami serahkan kepada keluarga dalam keadaan sehat dan selamat,” tutup Iman. Meski selamat, petualangan berbahaya ini jelas memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga bagi mereka berdua.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version