JAKARTA, Checkbind.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tak main-main dalam mengantisipasi cuaca ekstrem! Mereka baru saja menebar 16 ton bahan semai ke angkasa demi mencegah hujan lebat yang mengancam Jabodetabek. Aksi ini dilakukan melalui 18 kali penerbangan dengan dua pesawat khusus, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melindungi warga dari ancaman banjir.
Garam dan Kapur Jadi Senjata Lawan Awan Hujan
Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, membeberkan detail operasi ini. “Kami sudah menaburkan total 16 ton bahan semai, terdiri dari 12,4 ton Natrium Klorida (NaCl) alias garam dapur dan 3,6 ton Kalsium Oksida (CaO) atau kapur tohor,” jelasnya pada Jumat (11/7/2025).
Kedua bahan ini bukan sembarangan! Garam berfungsi menarik uap air, sedangkan kapur membantu mengurai awan hujan. Dua pesawat Caravan bernomor PK-DPI dan PK-SNL dikerahkan untuk membawa bahan-bahan tersebut, terbang selama 24 jam penuh di atas Pesisir Utara dan Selatan Jawa Barat. Pangkalan utamanya? Lanud Halim Perdanakusuma, yang menjadi markas operasi ini.
Target Utama: Laut dan Hulu Sungai Rawan Banjir
BNPB tidak asal menebar. Mereka memprioritaskan daerah perairan utara Karawang, Bekasi, Indramayu, serta wilayah hulu sungai yang alirannya berakhir di Jabodetabek. “Dengan menurunkan hujan di laut, kami harap bisa mengurangi volume air yang masuk ke darat,” ujar Abdul.
Strategi ini cerdas! Alih-alih membiarkan awan hujan mengguyur kota, BNPB “memancing” hujan turun di laut sebelum mencapai pemukiman warga. Cara ini sudah terbukti efektif dalam operasi serupa sebelumnya.
Musim Kemarau Basah, Ancaman Banjir Meningkat
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) ini bukan tanpa alasan. Jawa Barat dan Jakarta sedang mengalami fenomena langka: musim kemarau basah, di mana hujan deras masih sering terjadi meski seharusnya masuk musim kemarau. BMKG memprediksi intensitas hujan tinggi masih akan berlanjut di pekan pertama Juli 2025.
BNPB pun bergerak cepat! Sejak Senin (7/7/2025), mereka bekerja sama dengan BMKG dan TNI Angkatan Udara untuk menjalankan OMC. Tujuannya jelas: mengurangi potensi banjir yang kerap melanda Jabodetabek saat curah hujan tinggi.
Teknologi Modifikasi Cuaca: Solusi Cerdas Hadapi Cuaca Ekstrem
OMC bukanlah hal baru. Teknik ini sudah digunakan di berbagai negara untuk mengendalikan cuaca, mulai dari mencegah hujan hingga menciptakan hujan buatan. Di Indonesia, BNPB memanfaatkannya untuk mitigasi bencana.
Dengan menabur garam dan kapur ke awan, partikel tersebut mempercepat proses kondensasi. Hasilnya? Awan hujan pecah lebih cepat dan turun sebelum mencapai wilayah padat penduduk.
Dukungan Penuh TNI AU dan BMKG
Operasi besar-besaran ini tidak mungkin sukses tanpa kolaborasi. TNI AU menyediakan pesawat dan pilot berpengalaman, sementara BMKG memberikan data cuaca akurat untuk menentukan titik terbaik penaburan.
“Lokasi penaburan dipilih berdasarkan analisis angin dan pergerakan awan. Kami ingin memastikan bahan semai bekerja optimal,” tambah Abdul.
Warga Diminta Tetap Waspada
Meski OMC berjalan, BNPB mengingatkan masyarakat untuk tetap siaga. “Modifikasi cuaca membantu, tapi tidak 100% menghilangkan risiko banjir. Masyarakat harus terus memantau informasi dari BMKG dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk,” pesannya.
Beberapa langkah antisipasi yang bisa dilakukan warga antara lain:
- Membersihkan saluran air
- Menghindari buang sampah sembarangan
- Menyiapkan tas darurat jika banjir datang
Operasi Berlanjut Hingga Hari Ini
Hingga Jumat (11/7/2025), OMC masih terus berjalan. BNPB memastikan semua sumber daya dikerahkan maksimal untuk meminimalisir dampak hujan ekstrem.
“Kami akan evaluasi efektivitas operasi ini. Jika perlu, kami perpanjang atau tingkatkan skalanya,” tegas Abdul.

