BANJARNEGARA, Checkbind.com – Musim kemarau 2026 sedang panas-panasnya, tapi jangan kaget – Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, justru memamerkan pemandangan yang bikin mata melotot. Lapisan es atau embun upas kembali menyapa para wisatawan dan warga lokal di awal Juni ini. Peristiwa langka ini sontak menjadi bola panas yang ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial, lho!
Fenomena Es Putih yang Menghebohkan Jagat Maya
Tim kami menelusuri sebuah unggahan dari akun Threads @magel**** pada Minggu (7/6/2026) semalam, dan unggahan itu benar-benar menarik perhatian jutaan mata. Dalam unggahan tersebut, semua orang bisa melihat jelas bagaimana embun upas menyelimuti seluruh area Dieng hingga memutih. Suhu udara di sana turun drastis, sehingga memunculkan fenomena keren ini – mirip seperti sedang berada di negara-negara empat musim.
Kemudian, saat kita menyaksikan lebih detail, kristal-kristal es terbentuk dengan indahnya di permukaan daun-daun hijau dan hamparan rumput luas. Kristal-kristal es itu langsung mengubah warna dedaunan menjadi putih bak kapas. Lanskap Dieng pun berubah total menjadi mirip padang salju saat musim dingin. Keren banget, kan?
Sementara itu, akun TikTok @kou*** tak kalah gencar memviralkan suhu udara di Dieng. Akun itu menyebutkan bahwa pada Senin (8/6/2026) pagi, suhu udara di sana menyentuh titik 1 derajat Celsius. Bayangkan, dinginnya nyaris mencapai titik beku! Warganet pun langsung berbondong-bondong berkomentar karena kejadiannya unik dan tak terduga. Mereka heran, mengapa lapisan es menyelimuti justru saat musim kemarau melanda wilayah Jawa Tengah lainnya – padahal musim ini identik dengan teriknya sinar matahari dan hawa panas.
Data Dingin dari Ahli: Suhu Semakin Menusuk Tulang
Menanggapi fenomena yang bikin penasaran ini, saya langsung menggali informasi dari ahlinya. Analis Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Zauyik, dengan sabar memaparkan hasil pengamatan terkini berdasarkan alat canggih bernama Automatic Weather Station (AWS) Batur Dieng. Data tidak bisa bohong, menurut beliau.
Lebih lanjut, Zauyik menjelaskan temuan menarik pada Minggu (7/6/2026) dini hari. Suhu terendah yang terekam benar-benar menusuk tulang. AWS mencatat suhu udara rata-rata mencapai titik minimum 3,68 derajat Celsius tepat pada pukul 01.10 WIB. Dingin, ya?
“Sensor suhu pada AWS mengukur suhu udara pada ketinggian standar meteorologi, yakni sekitar 1,5 sampai 2 meter dari permukaan tanah,” jelas Zauyik dengan lugas pada Senin kemarin. Jadi, jangan heran kalau tubuh kita terasa lebih dingin dari angka itu.
Tak hanya itu, Zauyik menambahkan poin penting. Kondisi malam yang cerah tanpa awan menyebabkan suhu di permukaan tanah biasanya lebih ekstrem dinginnya daripada suhu udara di ketinggian sensor. Hasilnya? Pada tanggal yang sama, suhu di permukaan tanah atau tepat di atas rumput tercatat lebih rendah, yakni hanya 2,08 derajat Celsius. Wow!
Kemudian, cerita serupa juga terjadi lagi pada Senin (8/6/2026) pagi. AWS mengukur suhu udara rata-rata terendah sebesar 2,34 derajat Celsius pada pukul 06.00 WIB. Namun yang lebih mengejutkan, pada waktu yang bersamaan, suhu di permukaan tanah atau rumput anjlok hingga menyentuh angka 1,69 derajat Celsius! Kedinginan, kan?
Akar Masalah: Mengapa Kemarau Justru Menghadirkan Embun Beku?
Lantas, apa penyebab Dieng mendadak diselimuti lapisan es saat musim panas begini? Zauyik kembali memberikan penjelasan ilmiah yang mudah dicerna. Pertama-tama, mari kita perhatikan arah dan kecepatan angin. Sejak tengah malam hingga pagi hari, angin yang sangat tenang atau istilah kerennya calm wind.
Angin yang tenang ini menyebabkan udara dingin yang lebih berat tidak bisa bergerak kemana-mana. Akibatnya, udara dingin tersebut tetap mengendap di dekat permukaan tanah. Suhu pun terus turun secara signifikan. Proses ini mirip seperti kulkas alami yang kerjanya maksimal!
Selain faktor angin, tingkat kelembapan udara di dekat permukaan juga melonjak sangat tinggi. Buktinya, pada Minggu, kelembapan mencapai 97 persen, sementara pada Senin masih di angka 96,9 persen. Kondisi ini membuktikan bahwa uap air melimpah ruah di sekitar rumput dan dedaunan.
Nah, suhu permukaan tanah turun drastis mendekati titik beku akibat angin yang tenang. Pada kondisi ini, uap air tersebut tidak berubah menjadi titik air biasa. Prosesnya lebih unik lagi! Uap air langsung mengalami sublimasi, yaitu perubahan wujud dari gas menjadi padat. Hasil akhirnya? Kristal-kristal es berwarna putih pun terbentuk dengan sempurna, dan kita semua mengenalnya sebagai embun upas.
Terakhir, Zauyik juga menyoroti peran kondisi langit yang cerah tanpa tutupan awan. Pada siang hari, permukaan bumi menerima radiasi matahari dalam jumlah besar. Akan tetapi, ketika malam tiba, bumi melepaskan panas tersebut jauh lebih cepat. Radiasi panas langsung terlepas ke luar angkasa tanpa terhalang oleh awan. Alhasil, suhu pun turun dengan drastis, dan sempurnalah fenomena alam langka yang membuat begitu istimewa ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

