Checkbind.com – Media-media terkemuka Amerika Serikat secara serentak memberitakan bahwa serangan ke Venezuela akhirnya benar-benar dimulai. Tepat pada Sabtu dini hari (3/1/2026), waktu setempat, serangkaian ledakan keras tiba-tiba mengguncang Ibu Kota Caracas. Kondisi mencekam ini secara langsung memaksa Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, untuk segera mengumumkan status keadaan darurat di seluruh kota.
Tanpa menunggu lama, Maduro pun langsung mengecam dengan keras serangan mendadak tersebut. Dalam pernyataannya, ia dengan tegas menyebut aksi ini sebagai bentuk agresi militer yang sangat serius. Pemerintah Venezuela secara resmi menegaskan, “Venezuela di hadapan komunitas internasional menolak, menyangkal, dan mengecam agresi militer sangat serius yang dilakukan Pemerintah Amerika Serikat saat ini terhadap wilayah dan rakyat Venezuela.” Kantor berita ternama AFP kemudian menyebarluaskan pernyataan penuh kegeraman ini ke seluruh dunia.
Di hari yang sama, Presiden Kolombia, Gustavo Petro, juga mengonfirmasi kabar mengerikan ini. Ia secara spesifik menyebut bahwa Caracas telah menjadi target utama serangan AS. Melalui sebuah unggahan di media sosial X, Petro dengan jelas menulis, “Saat ini mereka membombardir Caracas… Membomnya dengan rudal.” Tidak hanya itu, ia pun langsung menyerukan diadakannya sidang darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas krisis ini.
Menurut laporan dari Associated Press, setidaknya tujuh kali ledakan dahsyat terdengar oleh warga sekitar dini hari. Sementara itu, jurnalis AFP di lapangan juga melaporkan bahwa ledakan-ledakan tersebut disertai dengan suara pesawat yang terbang sangat rendah di beberapa titik Caracas, tepat ketika waktu subuh tiba.
Kepanikan tentu saja langsung melanda warga Caracas. Mereka pun berhamburan keluar ke jalan-jalan untuk menyelamatkan diri sambil mendengar dentuman keras dan deru pesawat militer. Seorang pegawai kantoran berusia 21 tahun, Carmen Hidalgo, mengungkapkan kesaksiannya kepada The Guardian, “Seluruh daratan bergetar. Ini mengerikan. Kami mendengar ledakan dan pesawat di kejauhan.”
Dari lokasi kejadian, para saksi mata melihat kepulan asap tebal membubung dari dua instalasi militer utama di Caracas. Kepulan asap pertama kali membubung dari Pangkalan Udara La Carlota di pusat kota, lalu kemudian muncul juga dari kompleks militer Fuerte Tiuna yang menjadi salah satu kediaman Presiden Nicolas Maduro. Selain itu, laporan juga menyebutkan bahwa Bandara Higuerote di bagian timur Caracas turut menjadi sasaran serangan.
Tak lama setelah kejadian, CBS News berhasil mendapatkan informasi eksklusif dari sumber dalam pemerintahan. Sumber tersebut membenarkan bahwa serangan itu memang diperintahkan secara langsung oleh Presiden AS, Donald Trump. Mereka juga mengungkapkan bahwa target operasi ini mencakup sejumlah fasilitas militer strategis Venezuela.
Gedung Putih dan Pentagon belum mengeluarkan komentar resmi atas insiden yang menggemparkan dunia tersebut. Namun, media-media besar di “Negeri Paman Sam” seperti CBS News dan Fox News justru telah mengutip pernyataan sumber anonim dari lingkaran pemerintahan Trump. Sumber-sumber itu secara gamblang membenarkan bahwa militer AS memang terlibat penuh dalam operasi militer tersebut.
Serangan spektakuler ini jelas menambah tingkat ketegangan dalam hubungan AS-Venezuela yang memang telah memburuk sejak lama. Hubungan kedua negara terus memanas karena AS menerapkan berbagai sanksi ekonomi dan mengalamatkan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia kepada pemerintahan Maduro. Kini, ketegangan itu akhirnya meledak menjadi aksi militer terbuka yang menyedot perhatian global.
Dengan demikian, dunia kini menyaksikan sebuah episode baru yang sangat mencemaskan dalam politik internasional. Serangan ini tidak hanya mengubah dinamika di Amerika Latin, tetapi juga berpotensi memicu krisis geopolitik yang lebih luas. Segala mata kini tertuju pada respon komunitas internasional dan langkah selanjutnya dari kedua pihak yang bertikai.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

