Site icon Checkbind

Antrean Calon Siswa SMP dan SMA di Sekolah Rakyat Sragen Melampaui Kuota yang Tersedia

SRAGEN, Checkbind.com – Antusiasme masyarakat terhadap Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 78 di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, ternyata luar biasa menggila! Panitia pendaftaran sampai kewalahan karena jumlah calon siswa baru untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sudah melampaui kuota yang tersedia secara signifikan. Bahkan, lonjakan peminat ini terjadi begitu cepat bagaikan air bah yang sulit dibendung.

Merespons gelombang antusiasme yang membeludak tersebut, Dinas Sosial Kabupaten Sragen langsung bergerak cepat bagaikan tim pemadam kebakaran. Panitia menggelar rapat khusus yang berlangsung alot serta mengevaluasi secara mendalam data hasil penjangkauan lapangan para calon siswa SR. Mereka mengambil langkah tegas ini untuk memastikan tidak ada satupun anak yang kehilangan hak pendidikannya.

Sebelum kemelut ini terjadi, para petugas pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) sudah lebih dulu diterjunkan ke pelosok desa. Mereka dengan tekun melakukan penjangkauan langsung dari rumah ke rumah warga, menyisir satu per satu calon siswa yang memenuhi kriteria SR. Upaya maksimal ini membuahkan hasil yang tidak terduga besarnya.

Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, pemerintah daerah ternyata hanya menyediakan kuota resmi yang sangat terbatas. Mereka hanya mematok masing-masing jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA sebanyak 90 orang. Selanjutnya, panitia akan membagi jumlah minimalis ini menjadi 3 rombongan belajar (rombel) per jenjang. Artinya, setiap rombel hanya akan berisi sekitar 30 siswa!

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sragen, Yuniarti, kemudian menjelaskan secara rinci bagaimana tim pendamping PKH bekerja dengan presisi tinggi di lapangan. Mereka tidak asal tunjuk, melainkan menggunakan basis Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai pijakan utama. Selain itu, mereka juga memakai indikator Angka Tidak Sekolah (ATS) untuk memastikan jaringannya tepat sasaran. Dengan metode ini, mereka secara cermat menjaring calon siswa SR yang benar-benar membutuhkan.

Perlu diketahui bersama, program SR ini secara tegas menyasar anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Mereka yang masuk dalam kategori Desil 1 dan 2 menjadi prioritas utama. Tidak hanya itu, anak-anak yang sudah putus sekolah juga mendapatkan perhatian khusus untuk ditarik kembali ke bangku pendidikan melalui program unggulan ini.

Kuota SMP dan SMA Penuh Total, Bahkan Kelebihan Banyak!

Setelah melakukan penjangkauan terkini, petugas menemukan fakta mengejutkan tentang ketimpangan jumlah pendaftar antar jenjang pendidikan. Ternyata, animo masyarakat tidak merata. Hanya 5 orang anak yang mendaftar di jenjang SD, jumlah yang sangat memperihatinkan bagaikan tetes air di tengah padang pasir.

Namun, kondisi sebaliknya yang sungguh di luar dugaan terjadi pada kuota SMP dan SMA. Pendaftar langsung meledak dan melebihi kapasitas dengan sangat drastis! Hingga saat ini, tim pendataan sudah mencatat 130 orang calon siswa untuk jenjang SMP. Sementara itu, jenjang SMA juga tidak kalah ramai dengan 115 orang calon siswa yang mengantre panjang.

Yang menarik dari proses ini, tim Dinas Sosial mengaku sedang mematangkan finalisasi dan penetapan nama-nama calon siswa yang lolos seleksi. Mereka menargetkan proses rumit ini bisa rampung pada akhir bulan ini. Tentu saja, banyak pihak yang penasaran siapa saja yang beruntung mendapatkan kursi langka tersebut.

“Kami sudah melakukan perangkingan untuk 90 kursi (jenjang SMP dan SMA) itu,” ungkap Yuniarti dengan nada tegas saat dihubungi pada Sabtu (13/6/2026). “Sisanya akan kami masukkan sebagai kuota cadangan. Nantinya, Surat Keputusan (SK) Bupati akan menetapkan keputusan final, namun untuk saat ini prosesnya masih berjalan,” tambahnya memberikan kejelasan.

Yuniarti kemudian menjelaskan lebih lanjut dengan nada menenangkan bagi para calon siswa yang masuk cadangan. Pihaknya meminta agar mereka tidak perlu berkecil hati atau patah semangat. Masih ada jalan lain yang bisa mereka tempuh untuk melanjutkan pendidikan.

Nantinya, tim pendamping PKH akan kembali melakukan pendekatan persuasif ke pihak keluarga masing-masing. Mereka akan menggali apakah ada minat untuk mengalihkan anak-anak tersebut ke sekolah reguler biasa. Sebagai alternatif lain, para orangtua juga bisa memilih program sekolah paket kejar yang lebih fleksibel.

Pihak Dinsos pun menegaskan komitmen penuh mereka untuk mengawal seluruh calon siswa SR yang masuk kuota cadangan tersebut. Mereka berjanji tidak akan membiarkan satu pun anak terlantarkan. Setiap anak tetap bisa mengenyam bangku sekolah meskipun mereka tidak tertampung di SR.

“Kita memiliki keinginan kuat agar semua anak itu bisa sekolah,” tutur Yuniarti dengan penuh harap. “Alangkah bersyukurnya nanti jika mereka semua pada akhirnya bisa masuk ke SR,” pungkasnya menyampaikan harapan besar pemerintah daerah yang begitu mulia.

Calon Siswa SD Hanya Segelintir! Orangtua Nggak Tega Anaknya Tinggal di Asrama

Sementara itu, untuk menyiasati kelangkaan calon siswa SD, Yuniari mengungkapkan strategi jitu yang akan segera diterapkan. Pihaknya akan menggerakkan pendamping PKH secara masif dan agresif. Mereka akan melakukan sosialisasi intensif mengenai program nasional ini kepada para orangtua di seluruh penjuru Sragen.

Berdasarkan evaluasi yang dilakukan di lapangan, tim menemukan satu kendala utama yang menghambat pendaftaran SD. Rata-rata para orangtua mengaku merasa tidak tega dan berat hati untuk melepaskan anak-anak mereka yang masih kecil. Mereka khawatir jika si kecil harus tinggal di dalam fasilitas asrama selama mengikuti kegiatan belajar-mengajar di SR.

Padahal, perlu diluruskan bersama, kehadiran SR dengan sistem sekolah berasrama (boarding school) ini menghadirkan konsep luar biasa. Fokusnya tidak hanya pada peningkatan kemampuan akademik anak semata. Lebih dari itu, sistem ini secara khusus membentuk penguatan karakter serta menumbuhkan kemandirian sejak dini. Karena konsep strategis inilah, pihak sekolah mewajibkan seluruh siswa SR untuk tinggal menetap di dalam asrama.

“Khusus untuk calon siswa SD (yang jumlahnya masih sangat kurang) kami menerapkan sistem multientry,” jelas Yuniarti dengan solutif. “Kami akan tetap menerima pendaftaran dari kelas berapa pun dan kapan pun waktunya,” paparnya seraya memaparkan strategi pelonggaran yang cukup longgar ini.

50 Siswa SR Rintisan di BKPSDM Bakal Segera Pindah ke Gedung Baru!

Ditengah hiruk-pikuk proses penerimaan calon siswa baru, ada kabar menggembirakan lainnya. Para pekerja terus mengebut proyek pengerjaan fisik pembangunan gedung permanen untuk SR Terintegrasi 78 Sragen tanpa henti. Lokasinya berada di wilayah Desa Kedawung, Kecamatan Mondokan. Mereka menjalankan proses pembangunan fasilitas pendidikan megah ini sesuai rencana dan menargetkan penyelesaian 100 persen pada bulan ini.

Sebagai informasi tambahan yang menarik, Pemerintah Kabupaten Sragen ternyata sudah memulai pelaksanaan roda pembelajaran sekolah rakyat perdana. Mereka menggunakan fasilitas SR Rintisan 78 sebagai langkah awal. Lokasi rintisan ini untuk sementara waktu memanfaatkan area Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Latihan Kerja Badan Pengelola Kepegawaian dan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Sragen.

Saat ini, sudah ada total 50 siswa aktif yang menempuh pendidikan di sana. Rinciannya, jumlah tersebut terbagi menjadi dua rombel dengan kapasitas masing-masing rombel berisi 25 anak untuk setiap jenjang pendidikan SMP dan SMA. Suasana belajar mengajar pun sudah berlangsung kondusif.

Yang paling ditunggu-tunggu, pihak sekolah akan memindahkan seluruh siswa yang ada di kelas rintisan tersebut secara massal. Mereka akan melakukan proses perpindahan besar-besaran ini ketika para kontraktor sudah menyelesaikan proyek gedung SR permanen di Mondokan 100 persen. Tentunya, semua pihak berharap segera mengfungsikan gedung baru ini untuk menampung lebih banyak siswa.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version