Putin Tidak Takut Hadapi Ultimatum Trump Soal Perang Ukraina

Diposting pada 7 views

MOSKWA, Checkbind.com – Presiden Rusia Vladimir Putin tampaknya tidak akan menuruti ultimatum Presiden AS Donald Trump mengenai perang di Ukraina, meski batas waktu sanksi baru AS akan berakhir Jumat ini.

Tiga sumber dekat Kremlin yang diwawancarai Reuters mengungkapkan bahwa Putin tetap berkomitmen pada tujuan militernya untuk menguasai penuh empat wilayah Ukraina: Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kherson. Trump sebelumnya mengancam akan mengenakan sanksi tambahan terhadap Rusia dan memberlakukan tarif 100% pada negara pembeli minyak Rusia, termasuk China dan India, jika Putin tidak menyetujui gencatan senjata.

Meski memahami risiko terhadap hubungan dengan AS, Putin lebih memilih memprioritaskan ambisi militernya. Dua sumber menyebut Putin tidak ingin memancing kemarahan Trump, tetapi ia menganggap perang ini sebagai bagian dari misi strategis Rusia.

“Jika Putin berhasil menduduki keempat wilayah itu, ia bisa menyatakan bahwa tujuannya tercapai,” ujar James Rodgers, penulis buku The Return of Russia.

Perundingan Tanpa Kemajuan Berarti

Sejak Mei lalu, perunding Rusia dan Ukraina sudah tiga kali bertemu, namun hanya membahas pertukaran tahanan tanpa kesepakatan penting. Kremlin mengklaim proses berjalan baik, tapi tuntutan Moskow agar Ukraina menarik pasukan, bersikap netral, dan membatasi militer tetap tidak bisa diterima Kyiv.

Salah satu sumber mengatakan bahwa Putin sengaja menggelar perundingan untuk menunjukkan kepada Trump bahwa ia tidak menutup pintu perdamaian.

Diplomasi Masih Berjalan

Meski bersikeras pada tujuannya, Putin tetap membuka ruang dialog. Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, rencananya akan berkunjung ke Rusia minggu ini, di tengah memanasnya ketegangan, termasuk ancaman penggunaan senjata nuklir.

Baru-baru ini, Rusia menyatakan tidak lagi terikat oleh moratorium peluncuran rudal nuklir jarak pendek dan menengah. Kremlin menolak berkomentar lebih lanjut.

Hubungan Trump-Putin Semakin Memanas

Trump, yang sebelumnya dikenal bersikap ramah terhadap Putin, kini mulai kehilangan kesabaran. Ia menyebut serangan Rusia di Ukraina sebagai “tindakan yang sangat buruk”.

Perdana Menteri Ukraina Yulia Svyrydenko mendesak dunia untuk memberikan “tekanan maksimum” kepada Moskwa setelah serangan mematikan di Kyiv menewaskan 31 orang, termasuk lima anak.

“Presiden Trump ingin menghentikan pertumpahan darah. Karena itulah ia memasok senjata ke NATO dan mengancam Putin dengan sanksi jika tidak ada gencatan senjata,” jelas juru bicara Gedung Putih Anna Kelly.

Rusia Terus Mendesak di Medan Perang

Sumber pertama mengungkapkan bahwa Putin sebenarnya ingin memperbaiki hubungan dengan AS, tetapi situasi di lapangan membuatnya enggan menghentikan perang.

“Dengan pasukan Rusia yang terus maju dan Ukraina yang semakin terdesak, Putin merasa ini bukan waktu yang tepat untuk berhenti,” kata sumber tersebut.

James Rodgers menambahkan bahwa Putin telah mempertaruhkan reputasi dan warisannya dalam konflik ini, dan ia melihat diri sebagai penerus tradisi Rusia yang melawan tekanan Barat.

Kemajuan Strategis Rusia

Sumber kedua menegaskan bahwa meski Putin menghargai hubungan dengan Trump, keputusan perang tidak tergantung pada tekanan AS.

Sumber ketiga menyatakan Rusia sedang mengejar peluang strategis. Menurut Black Bird Group, Ukraina kehilangan 502 km² wilayah pada Juli 2025, dan Rusia kini menguasai sekitar 20% wilayah Ukraina.

Militer Rusia meyakinkan Putin bahwa pertahanan Ukraina bisa runtuh dalam 2-3 bulan. Namun, laporan CSIS menunjukkan bahwa sejak awal 2024, Rusia hanya merebut 5.000 km² (kurang dari 1% wilayah Ukraina).

Meski kemajuannya lambat dan banyak memakan korban, beberapa analis militer Rusia percaya bahwa pasukan mereka bisa merebut lebih banyak wilayah dalam waktu dekat.

Kesimpulan

Putin tetap teguh pada tujuan perangnya di Ukraina meski menghadapi ancaman sanksi dari Trump. Meski diplomasi masih terbuka, keunggulan di medan perang membuat Rusia enggan berkompromi. Konflik ini terus menguji ketegangan antara Moskwa dan Washington.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *