POLEWALI MANDAR, Checkbind.com – Sebuah insiden memilukan terjadi di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Jamaluddin, seorang kepala puskesmas sekaligus Ketua PPNI Cabang Polewali Mandar, dibawa paksa dan dipukuli hingga pendarahan otak saat bentrok antara polisi dan massa dalam eksekusi lahan pada 3 Juli 2025. Saat ini, kondisinya masih kritis di ruang ICU RSUD Hajja Andi Depu.
Keluarga Berang: “Dia Cukup Jadi Korban Salah Tangkap!”
Keluarga Jamaluddin ngotot menyatakan bahwa dia hanyalah korban salah tangkap. Rumah mertuanya berada di dekat lokasi kericuhan, tapi sama sekali tidak terlibat sengketa lahan.
“Dia ada di sana karena rumah keluarganya memang di situ. Mana mungkin dia melakukan kekerasan? Dia ASN, Ketua PPNI, profesional!” tegas Awaluddin, adik korban, dengan nada geram.
Menurut pengakuannya, Jamaluddin sempat diperintahkan masuk ke dalam rumah oleh polisi. Tapi tiba-tiba, beberapa oknum aparat mendobrak pintu, menyeretnya keluar, dan memukulinya hingga babak belur.
“Dia dibawa keluar, lalu dipukuli sampai pendarahan otak. Ini jelas kekerasan berlebihan!” tambah Awaluddin.
Polisi Bantah Salah Tangkap: “Dia Ada di Barisan Depan Massa!”
Kapolres Polewali Mandar, AKBP Anjar Purwoko, membantah keras tuduhan salah tangkap. Dalam konferensi pers, dia mengklaim bahwa Jamaluddin diamankan karena terlihat di barisan depan massa yang melempari polisi dengan batu dan bom molotov.
“Tidak benar dia salah tangkap. Kami hanya mengamankannya karena dia berada di tengah kerumunan yang ricuh,” tegas Anjar.
Tapi di sisi lain, Kapolres juga mengakui bahwa Jamaluddin ikut jadi korban pukulan warga saat proses evakuasi. “Empat pelaku pemukulan sudah kami tangkap di Campalagian, Wonomulyo, dan Kalukku,” jelasnya.
Latar Belakang: Bentrok Mengerikan Saat Eksekusi Lahan
Insiden ini berawal dari eksekusi lahan sengketa di Dusun Palludai. Massa yang kalah dalam sengketa membakar ban, melempar batu, bahkan meluncurkan bom molotov ke arah polisi. Aparat pun bertindak tegas dengan mengamankan puluhan orang dan menyita senjata tajam, ketapel, hingga bahan peledak rakitan.
Sorotan Publik: Pejabat Kesehatan Jadi Korban Kekerasan
Kasus ini menyulut kemarahan publik, terutama karena korban adalah figur terpandang di dunia kesehatan Polewali Mandar. Keluarga mendesak investigasi transparan terhadap tindakan polisi di lapangan.
“Ini harus dievaluasi! Jangan sampai aparat seenaknya main pukul tanpa bukti!” desak Awaluddin.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?
Dengan kondisi Jamaluddin yang masih kritis, tekanan terhadap kepolisian semakin besar. Masyarakat menuntut keadilan dan pertanggungjawaban.
“Kami minta proses hukum yang adil. Jika memang ada kesalahan, polisi harus bertanggung jawab!” tegas keluarga korban.
Dapatkan Berita Terupdate Lainnya di Exposenews.id



