GOWA, Checkbind.com – Sudah tiga bulan lamanya, Kapten Ashari Samadikun (33), putra terbaik Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, harus merasakan pahitnya hidup di tengah gempuran ombak dan todongan senjata api. Nahkoda MT Honour 25 itu hingga kini masih mendekam dalam penyanderaan kelompok perompak Somalia. Ironisnya, upaya untuk mengurai benang kusut pembebasannya justru kandas di tengah jalan. Bukan tebusan tinggi yang menjadi masalah utama, melainkan pihak diajak bernegosiasi pun tak kunjung mereka temukan. Bayangkan, nasib seorang warga negara Indonesia terkatung-katung di ujung tanduk, sementara para penculik pun memutus komunikasi bagai ombak menelan harapan.
Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal, mengungkapkan kegelisahannya atas situasi yang semakin pelik ini. Berdasarkan laporan yang mengalir deras kepadanya, ia menyoroti fakta mengejutkan: hingga detik ini, pihak perusahaan maupun pemerintah belum menjalin kontak resmi dengan perwakilan kelompok penyandera, padahal mereka sangat membutuhkan mitra negosiasi yang jelas. “Daripada laporan yang kami terima, kami melihat tidak jelas contact person atau lembaga yang bertanggung jawab untuk diajak bernegosiasi. Jadi, para pihaknya itu benar-benar tidak jelas,” ujarnya dengan nada prihatin di Makassar, Selasa (28/7/2026). Ketidakjelasan ini tentu saja membuat langkah penyelamatan menjadi seperti berjalan di atas kapal bocor, bukannya mendekati titik terang, malah semakin menjauh dari harapan.
Koordinat Berubah-ubah, Angka Tebusan Melonjak Tinggi
Selain kebuntuan komunikasi yang membuat semua pihak gamang, lokasi penyanderaan juga menjadi mimpi buruk tersendiri bagi tim penyelamat. Informasi terbaru menunjukkan bahwa para perompak kerap memindahkan kapal MT Honour 25 dari satu titik ke titik lain di perairan Somalia yang luas dan berbahaya. Akibatnya, proses pelacakan melalui satelit maupun peta laut konvensional menjadi sangat rumit. Setiap kali tim intelijen mengantongi satu koordinat, para perompak sudah keburu pindah lagi. Kondisi ini tentu menyulitkan perencanaan operasi penyelamatan, baik yang bersifat diplomatis maupun jika diperlukan tindakan tegas.
Sementara itu, persoalan nominal uang tebusan juga masih menjadi tanda tanya besar yang menghantui keluarga dan pihak perusahaan. Informasi mengenai besaran uang yang diminta oleh kelompok perompak terus berubah drastis bagaikan roller coaster. Syamsu Rizal mengungkapkan bahwa pada awal penyanderaan, para perompak hanya memasang tarif dua juta dolar AS. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya tekanan, angka tersebut melonjak menjadi lima juta dolar. Bahkan, dalam perkembangan terakhir, kabar yang beredar menyebutkan bahwa tuntutan mereka kini mencapai angka fantastis, yakni 10 juta dolar AS. Fluktuasi angka ini jelas bukanlah kabar baik, karena menunjukkan bahwa para perompak terus menguji keseriusan dan kemampuan finansial pihak yang berupaya membebaskan para sandera.
Desakan Pembentukan Satgas, Pemerintah Harus Bergerak Cepat!
Melihat kondisi yang semakin carut-marut dan penuh ketidakpastian ini, Syamsu Rizal mendesak pemerintah agar tidak tinggal diam dan hanya menjadi penonton. Ia menekankan perlunya langkah konkret dan terstruktur dengan membentuk satuan tugas khusus atau task force. Satgas ini, menurutnya, harus melibatkan unsur TNI yang tangguh, Kementerian Luar Negeri yang piawai berdiplomasi, serta instansi terkait lainnya seperti BIN dan Kementerian Perhubungan. “Kita ingin pemerintah hadir dengan membentuk task force supaya informasi mengenai tuntutan tebusan menjadi jelas dan terarah. Namun yang terpenting dan utama adalah bagaimana memastikan keselamatan WNI kita di sana,” tegas Syamsu Rizal. Kehadiran satgas ini dinilai krusial untuk menyatukan langkah dan strategi, sehingga tidak ada lagi ego sektoral yang justru akan memperumit proses pembebasan.
Ashari merupakan satu dari 19 kru yang menjadi korban keganasan perompak Somalia di atas kapal MT Honour 25. Di antara puluhan awak kapal tersebut, empat di antaranya adalah warga negara Indonesia yang saat ini nasibnya masih tergantung pada situasi yang tak pasti. Untuk memperkuat argumentasinya, Syamsu Rizal memutar sebuah rekaman video yang ayahanda Ashari, Syamsuddin Dg Ngawing, kirim langsung dalam rapat bersama jajaran TNI dan Kementerian Luar Negeri. Tayangan video berdurasi pendek itu memperlihatkan kondisi para sandera yang sangat memprihatinkan, hidup dalam ketakutan dan kekurangan.
Kesaksian Memilukan: Ibadah Tetap Teguh di Tengah Ancaman
Meski berada di bawah tekanan mental dan fisik yang luar biasa, rekaman itu justru menunjukkan keteguhan iman Kapten Ashari. Ia terlihat tetap khusyuk menjalankan ibadah di tengah kapal yang bergoyang dan pengawasan ketat para perompak. Pemandangan lain yang tak kalah menyayat hati adalah saat para awak kapal harus menyaring air keruh menggunakan botol air mineral bekas sebelum mereka meminumnya. Hal ini terpaksa mereka lakukan karena persediaan air bersih di atas kapal sudah menipis dan kualitasnya pun sangat buruk. Kondisi ini menggambarkan betapa kerasnya perjuangan mereka untuk bertahan hidup setiap harinya di lautan lepas.
Di sisi lain, kabar dari pihak perusahaan pemilik MT Honour 25 juga tidak membawa angin segar. Perusahaan tersebut disebut-sebut tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk memenuhi tuntutan tebusan yang nilainya terus membengkak. “Kabar terakhir yang kami dengar, pihak perusahaan tinggal mengikuti proses dan serba terbatas kemampuannya,” jelas Syamsu Rizal menambahkan. Keterbatasan dana ini menjadi kendala serius, mengingat negosiasi pembebasan biasanya sangat bergantung pada pemenuhan permintaan uang tebusan dari kelompok perompak. “Yang masih menjadi misteri adalah berapa sebenarnya nilai tebusan yang diminta. Apakah benar angka 10 juta dolar itu atau hanya isu untuk menaikkan tekanan?” lanjutnya sambil mempertanyakan kebenaran informasi yang beredar.
Keluarga Merasa Terabaikan, Cemas Menanti Kepastian
Sementara itu, jauh dari hiruk-pikuk politik dan diplomasi, keluarga Ashari di Gowa hidup dalam keterpurukan dan kecemasan yang mendalam. Sang ayah, Syamsuddin Dg Ngawing, dengan lantang menyuarakan kekecewaannya. Ia mengaku bahwa hingga saat ini pihak keluarga belum melihat perusahaan maupun pemerintah melakukan perkembangan berarti atau terobosan nyata dalam upaya pembebasan. “Itu kondisi sekarang, sama sekali pihak perusahaan tidak ada yang peduli terhadap orang-orang yang ada di atas kapal,” ujar Syamsuddin dengan nada getir. Keluhan ini menunjukkan adanya jurang komunikasi antara keluarga korban dengan pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab.
Persediaan logistik di atas kapal yang terus menipis menjadi isu yang sangat genting. Ditambah lagi, kelompok bersenjata terus memperketat pengawasan terhadap para sandera, sehingga komunikasi dengan Ashari kini semakin sulit mereka jalin. Senjata dan kecurigaan pun seakan membentuk tembok tinggi yang menghadang setiap upaya menghubungi mereka. Dengan semua tantangan ini, keluarga hanya bisa berpasrah dan terus memanjatkan doa agar ada keajaiban yang segera membawa pulang anak, saudara, dan suami mereka dari cengkeraman perompak Somalia. Akankah task force yang didesak segera dibentuk mampu memotong tali kebuntuan ini? Ataukah kita semua harus kembali menunggu di ujung penantian yang semakin panjang?
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

